Mungkin tak perlu tanya bagaimana keadaanku karena aku bahagia selama kau bahagia. Sesederhana itu
Sinar jingga menelusup melalui jendelaku yang tidak terlalu besar. Bagi seseorang yang gemar akan senja tentu ini bisa dibilang pemandangan menakjubkan tapi sayang aku bukan bagian dari mereka. Aku lebih menyukai fajar, dimana matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Saat ini sore sedang sunyi, dia tak banyak berkata dan aku ditemani hembusan angin yang berusaha membelai rambutku.
Tiba-tiba pikiranku berujung pada suatu hal. Pikiranku berusaha menerjemahkan perasaanku. Dan hasil terjemahan itu mengungakapkan bahwa aku rindu. Ya, pasti kali ini aku tak salah lagi bahwa aku memang rindu. Aku rindu semua hal tentang kita.
Aku rindu rutinitas pagi kita sebelum fajar menyongsong, shalat Subuh bersama. Aku rindu rutinitas sarapan pagi yang tidak pernah lebih dari pukul 6 dan tentunya dengan menu yang sangat lengkap nan lezat. Aku rindu kebiasaanku yang selalu mencium tanganmu sebelum pergi kemanapun. Aku rindu rasa bersemangat ketika semua urusanku pada hari itu selesai dan bersiap menuju rumah karena berarti aku akan segera menemuimu. Aku rindu kebersamaan sore hari kita entah itu minum teh bersama, menyiram tanaman bersama, membersihkan rumah bersama, mengurus hewan peliharaan kita, membahas kegiatan masing-masing bersama. Ah, semua kata yang diakhiri dengan bersama itu indah. Aku rindu bahkan sangat rindu.
Sudah sering kucoba ekspresikan rindu ini melalui gelombang kata yang dihantarkan oleh provider seluler. Lalu kau pun menjawab bahwa kau beribu lebih rindu padaku. Kemudian kita terdiam sejenak dan tersenyum. Kau selalu menguatkan aku, serindu apapun aku kau selalu mengatakan, “Bersabarlah karena ini bagian dari ikhtiar kita, Sayang”. Suaramu selalu menenangkan dan kata-kata yang keluar dari mulutmu selalu bijak.
Ya Allah sungguh aku rindu. Rindu suaramu. Rindu suaramu saat menjadi imam. Rindu suaramu saat mengaji. Rindu suaramu saat gusar. Rindu suaramu saat bahagia. Terlebih aku rindu keberadaanmu di depanku.
Ketika aku mulai tenggelam dengan kesibukanku kau tak pernah alpa menanyakan kabarku lewat telepon hingga aku hafal setiap kata yang meluncur dari bibirmu. Ketika aku terkadang tak sengaja melewatkan panggilan telponmu maka kau akan dengan santai mengirimkan pesan singkat bernada canda, “Kemana saja kau hari ini Sayang kok tidak mengudara”. Lalu aku akan merasa bersalah karena tidak memberimu kabar. Nada pesan singkatmu memang terdengar seperti bercanda tapi aku seratus persen yakin bahwa ketika tidak mendengar kabar tentangku kau akan gusar di ujung sana.
Ah tahukah kau? Rasa rindu ini seperti tak terperi. Tapi bolehkah aku jujur? Bahwa terkadang aku sedikit jengah saat kau menanyakan kabarku karena baiknya kita berbicara mengenai hal yang lain saja. Banyak hal yang aku ingin ceritakan dan aku yakin kau pun begitu. Tak usahlah membuang waktu kita menanyakan kabar tentangku karena aku bahagia selama kau bahagia. Sesederhana itu.
Teruntuk : Mama Papa-ku yang cintanya seperti jalan di dunia ini yang tak ada putusnya dan kakak perempuanku yang tercantik sedunia.
Dari : Seorang anak dan adik perempuan yang selalu berusaha mencintai kalian dengan tulus di setiap desah nafasnya.